Tayang Perdana Pekan Ini Godzilla II King of The Monsters Diulas Kritikus Film, Begini Ulasannya

oleh

Uri.co.id,  BALIKPAPAN – Monster-Verse menjadi sebuah dunia yang sengaja dibuat Warner Bros dalam menciptakan dunia monsternya sendiri. Tren crossover ini menjadi terkenal ketika Marvel mengenalkan konsep Marvel Cinematic Universenya kepada penonton.

Tak tanggung-tanggung Warner Bros yang juga memegang lisensi DC pun punya dua Universe yaitu World of DC dan Monster-Verse. Untuk bagian Monster-Verse ini para kaiju atau monster mitologi disajikan ke layar lebar dalam satu dunia yang utuh.

Bahkan franchise Godzilla dan Kingkong pun masuk ke dalam Universe ini. Sehingga bisa dibayangkan bagaimana perkelahian antara Kong dengan Godzilla terjadi dalam satu layar yang belum pernah terjadi. Hal itu bakal bisa disaksikan dalam film Godzilla vs Kingkong yang akan tayang tahun depan.

Namun sebelum itu pembangunan cerita dibuat terlebih dahulu. Dimulai dari Godzilla tahun 2014, Kong: The Skull Island dan terakhir Godzilla II King of The Monsters menjadi fondasi awal dalam dunia Monster Verse.

Godzilla II King of The Monsters sendiri baru tayang pekan ini. Sosok monster besar dengan punuk sirip tajam ini harus menghadapi musuh terbarunya. Bagi para fans tentu akan mengenal karakter monster seperti King Ghidorah, Mothra dan Rodan.

Ketiga monster tersebut muncul di film kedua dari remake berjudul Godzilla di tahun 1998 ini. Cerita dimulai dari kelanjutan dari film Godzilla pertama di tahun 2014.

Emma Russell (Vera Farmiga) seorang ilmuwan dari Monarch, perusahaan yang mengatur agar monster tersebut tidak keluar dari dalam bumi menciptakan sebuah alat bernama ORCA. Alat ini digunakan untuk mengatur gelombang frekuensi tiap Titan atau monster yang ada di bumi.

Tujuannya agar manusia bisa mengendalikan para Titan tersebut. Namun ia memiliki pemikiran ekstrim jika para Titan ini haruslah keluar dari dalam bumi. Tujuannya untuk menjaga bumi agar tidak musnah di tangan manusia. Maka para Titan ini harus memporak porandakan kota dan mengembalikan sistem tatanan yang ada.

Di satu sisi dr Serizawa (Ken Watanabe) menolak jika para Titan dihabisi oleh pemerintahan. Sebab ia yakin dengan adanya Titan bisa menjadi penyeimbang kehidupan. Bahkan ia mengatakan jika manusia bisa hidup damai dengan para Titan.

Dengan itu Emma mendatangi Antartika dan membangun monster Zero bernama Ghidorah. Monster tersebut hidup dan mengancam kehidupan manusia. Bahkan Emma pun juga membangun Mothra dan Rodan yang juga merupakan Titan Legendaris.

Disini Godzilla atau Gojira berperan sebagai pelindung bumi dari para Titan tersebut. Dengan bantuan Mothra Godzilla harus mengalahkan Ghidorah. Sebab sang monster naga berkepala tiga ini dapat menghancurkan bumi.

Film yang disutradarai oleh Michael Dougherty ini memiliki nuansa yang begitu kelam. Tone gelap akan jelas sekali selama penayangan film berlangsung. Selain pertarungan monster dibuat spektakuler di paruh tengah dan akhir film ini.

Hanya saja yang menjadi kendala di film ini adalah faktor cerita drama antar aktor yang terlalu bertele-tele. Sehingga di awal cerita rasanya terlalu panjang. Selain itu naskah yang dibuat terlalu datar dengan konflik antara rumah tangga Emma dengan suaminya bernama Mark pun terlalu berlebih-lebihan. Sehingga film ini dirasakan keluar dari jalur utamanya yang harusnya berfokus terhadap tokoh Godzillanya sendiri.

Maka beberapa kritikus film memberikan ulasan yang kurang baik di film ini dikutip dari laman Rotten Tomatoes.

“Anggaran biasanya bukan hal yang Anda sebutkan dalam ulasan, tetapi ketika Anda melihat film yang hampir seluruhnya didorong oleh tontonan dan Anda terus mengagumi bagaimana tamparan slapdash dan atau tidak nyata segalanya, Anda mulai bertanya-tanya di mana semua uang itu pergi,” kata Matthew Lickona dari Dan Diego Reader.

Sementara itu Hau Chu dari Washington Post mengatakan film ini berusaha keras mengangkat kembali kejayaan di film terdahulunya. “Sayangnya, “Monster” berusaha sedikit terlalu keras untuk mengoreksi arah dari apa yang dilihat beberapa orang sebagai kelemahan pendahulunya,” katanya.

Namun beberapa juga memberikan ulasan positif tentang film ini. “Ini adalah jenis film yang memiliki tim pemogokan militer dan pangkalan monster rahasia dan tim ilmuwan penyadap … Tapi juga menyenangkan dalam kekacauannya yang konyol dan besar. Dan monster-monster itu spektakuler,” ucap Norman Willer dari Now Toronto. Film ini mendapat nilai Tomatometer sebesar 41 persen, lalu audience score atau hasil penilaian penonton di luar pengulas film sebesar 91 persen. Sedangkan IMDb memberikan rating 7,1 dari 10. (jnp)

BACA JUGA:

Balapan MotoGP di Sirkuit Mugello Tanpa Valentino Rossi, Pilih Tunggangi Motocross

TERPOPULER Misteri warga Rusia di Sisi Prabowo Subianto, Turut Terbang Menuju Dubai, Begini Faktanya

Ketahuan Selingkuh, Istri Sah Buat Petisi Pemecatan Suaminya dari TNI, Dukungan Terus Mengalir

AHY dan Sandiaga Uno Masuk Nominasi? Jokowi Beberkan Kriteria Calon Menteri di Kabinet Baru

Rupanya Liverpudlian, Begini Cara Iron Man Dukung Liverpool di Final Liga Champions ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!