Kepolisian Sebut Perusuh Aksi 22 Mei Beli Senjata Bunuh 4 Tokoh Nasional dan Petinggi Lembaga Survei

oleh

Uri.co.id – Saat aksi 22 Mei lalu menciptakan kegentingan situasi dalam negeri Indonesia, ada beberapa sejumlah kelompok melakukan kerusuhan di aksi 22 Mei. 

Bentrok antara massa dan Kepolisian tidak dihindarkan di Jakarta. Usai aksi 22 Mei pun akhirnya biang atau provokator kerusuhan ditangkap pihak Kepolisian dan kemudian mengungkap beberapa informasi. 

Kepolisian terus dalami dalang dibalik aksi 22 Mei yang diduga ada kesengajaan untuk membuat kerusuhan dan membunuh pihak-pihak tertentu.  

Kepolisian mengungkap adanya kelompok pihak ketiga yang ingin menciptakan martir dalam aksi menolak hasil pilpres pada 22 Mei 2019 di depan gedung Bawaslu, Jakarta.

Selain itu, kelompok ini juga diduga berniat melakukan upaya pembunuhan terhadap empat pejabat negara dan seorang pemimpin lembaga survei.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Muhammad Iqbal menjelaskan, kronologi upaya pembunuhan ini bermula sejak 1 Oktober 2018.

Saat itu, HK mendapat perintah seseorang untuk membeli senjata.

“HK menerima perintah dari seseorang untuk membeli dua pucuk senpi laras pendek di Kalibata.

Seseorang ini, pihak kami sudah mengetahui identitasnya.

Sedang didalami,” kata Iqbal dalam jumpa pers di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (27/5/2019).

Setelah itu, lanjut Iqbal, pada 13 Oktober HK menjalankan pemerintah dan membeli senjata.

Ada empat senjata yang didapat oleh HK dari AF dan AD.

Sebagian senjata itu lalu diserahkan HK kepada dua rekannya, AZ, TJ, dan IR.

Pada 14 Maret, HK mendapat transfer Rp 150 juta.

Sebanyak Rp 25 juta ia bagikan kepada TJ.

“TJ diminta membunuh dua tokoh nasional. Saya tak sebutkan di depan publik. Kami TNI Polri sudah paham siapa tokoh nasional tersebut,” kata Iqbal.

Lalu pada 12 April, HK kembali mendapat perintah lagi untuk membunuh dua tokoh nasional lainnya.

“Jadi, ada empat target kelompok ini menghabisi nyawa tokoh nasional,” ujarnya.

Saat ditanya apakah tokoh nasional yang dimaksud adalah pejabat negara, Iqbal membenarkan.

“Pejabat negara. Tapi bukan presiden. Tapi bukan kapasitas saya menyampaikan ini. Nanti kalau sudah mengerucut baru dikasih tahu,” kata dia.

Selain empat pejabat negara, belakangan HK juga mendapat perintah untuk membunuh seorang pemimpin lembaga survei.

“Terdapat perintah lain melalui tersangka AZ untuk bunuh satu pemimpin lembaga swasta. Lembaga survei.

Dan tersangka tersebut sudah beberapa kali menyurvei rumah tokoh tersebut,” ujar Iqbal.

Saat ini, HK beserta dua rekannya AZ, TJ dan IR yang mencoba melakukan upaya pembunuhan sudah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka.

Begitu juga AF dan AD selaku penyuplai senjata. Namun, otak yang meminta melakukan pembunuhan ini, polisi mengaku masih melakukan pendalaman.

Kepolisian Tidak Ragu Tindak Pelaku aksi 22 Mei

Belum lama ini di Jakarta dan beberapa daerah lainnya, ada targedi aksi 22 Mei, aksi demonstrasi yang berujung ricuh, bentrok antara massa dan Kepolisian tidak bisa dihindari. 

Momen Pilpres 2019 yang diharapkan berjalan damai dan tentram pun seolah ambruk saat ada kejadian demonstrasi 22 Mei yang berujung rusuh. Fasilitas umum banyak yang rusak, korban kabarnya pun ada yang berjatuhan di Jakarta. 

Peristiwa kericuhan ini jelas menjadi momen yang menyedihkan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, di antaranya warga pun berharap kepada aparat Kepolisian untuk terus mengusut pelaku yang dianggap biang rusuh di aksi 22 Mei. 

Satu di antaranya ialah Partai Solidaritas Indonesia atau PSI. Menyadur dari website resmi PSI.id disebutkan, pihak PSI mendorong Kepolisian Republik Indonesia untuk bisa mengambil langkah tegas.

Yakni dalam merespons aksi massa yang diwarnai kekerasan dalam dua hari terakhir.

“Kepolisian tidak perlu ragu, tangkap para elite politik yang memprovokasi warga turun ke jalan dan membuat onar,” kata Juru bicara PSI, Andy Budiman, dalam keterangan tertulis, Rabu (22/5/2019)

“Tindakan tegas terhadap tokoh di balik aksi kerusuhan adalah langkah penting dalam pemulihan keamanan,” kata Andy. 

Ia menegaskan, dalam negara demokrasi, negara berkewajiban melindungi keselamatan semua warganegara.

Atas dasar itu, polisi bisa bertindak, pertama-tama dengan menangkapi para elite yang memprovokasi kerusuhan.

Kata dia, demokrasi bukan berarti orang bisa berbuat semaunya. Justru demokrasi itu didasarkan pada prinsip hukum dan penghormatan atas hak orang lain yang dirugikan akibat aksi yang disertai kekerasan.

“Ada batas tegas antara mengekspresikan pendapat yang sah dalam negara demokrasi dengan tindak kekerasan yang mengancam ketertiban umum,” pungkas Andy.
Dua juru bicara PSI, Tsamara Amany Alatas (kiri) dan Andy Budiman (kanan)di kantor DPP PSI, Jakarta Pusat, Kamis (14/3/2019).

Dua juru bicara PSI, Tsamara Amany Alatas (kiri) dan Andy Budiman (kanan)di kantor DPP PSI, Jakarta Pusat, Kamis (14/3/2019). (CHRISTOFORUS RISTIANTO/Uri.co.id)

Di tempat terpisah, Staf Ahli Komunikasi dan Informasi Badan Intilijen Negara (BIN), Wawan Purwanto angkat suara terkait orang-orang di balik kericuhan 22 Mei.

Diketahui sebelumnya bahwa dalam aksi 22 Mei kemarin sempat diwarnai kericuhan.

Kericuhan tersebut diduga ditimbulkan kelompok yang hingga kini masih diselidiki.

Menurut Wawan Purwanto, pada aksi 22 Mei 2019 kemarin ada dua kelompok berbeda yang melakukan unjuk rasa.

Kelompok pertama, kata Wawan Purwanto, melaksanakan aksi seusai prosedur.

Aksi tersebut diakhir dengan salat tarawih.

Setelahya, lanjut dia, muncul kelompok lain yang kemudian melakukan kerusuhan.

“Kalau skenario kelompok yang pertama memang sudah selesai artinya mereka sesuai prosedur mereka taat terhadap apa yang sudah menjadi aturan. Mereka berorasi kemudian diakhiri salat tarawih bersama,” ujar Wawan Purwanto seperti dilansir dari tayangan YouTube TVONE, Jumat (24/5/2019).

Dijelaskannya bahwa kelompok tersebut melakukan aksi yang sudah direncakan.

“Tidak mendadak itu,” katanya.

Hal itu mengingat adanya sejumlah temuan di lapangan berupa bom molotov hingga alat-alat lainnya untuk menyerang.

“Dengan berbagai temuan yang ada dan mereka juga sudah menyiapkan diri dengan barang-barang untuk menyerang seperti bom molotov, petasan. Termasuk memprovokasi pihak lain menyerang lebih dulu,” jelasnya.
Staf Ahli BIN Wawan Purwanto.

Staf Ahli BIN Wawan Purwanto. (YouTube TVONe)

Terkait dalang di balik kericuhan, pihaknya bersama kepolisian terus berupa menguaknya lebih dalam.

“Memang sudah di maping di berbagai temuan dan juga ditindak lanjuti dengan berbagai upaya-upaya menguak lebih lanjut dan ini pihak kepolisian juga terus melakuan upaya BAP terhadap apa-apa yang sudah ditemukan di lapangan, kemudian juga dikroscek dengan para pihak yang ditangkap ,” katanya.

“Dari sana ada bukti-bukti kayak ada amplop yang sudah tertulis nama-nama yang mau dibagikan termasuk juga ada uang uanganya di situ jumlahnya bervariasi demikian juga ada dana operasiaonal,”tambahnya.

Ada pun temuan-temuan yang ada nantinya, kata dia, akan disingkronkan dengan keterangan-kerangan saksi, ahli dan keterangan pendukung lainnya.

“Sehingga nanti akan lebih jauh diketahui,” tuturnya.

“Sekarang sudah mulai dikuak satu per satu siapa di balik ini termasuk pelaku-pelaku lapangannya,” tukasnya.

Uri.co.id “Polri: Perusuh 22 Mei Berupaya Bunuh 4 Pejabat dan Pimpinan Lembaga Survei”, https://nasional.Uri.co.id/read/2019/05/27/14561791/polri-perusuh-22-mei-berupaya-bunuh-4-pejabat-dan-pimpinan-lembaga-survei.

Editor : Sandro Gatra

Subscribe official YouTube Channel

BACA JUGA:

TERPOPULER: Sikap Tegas Al El & Dul Jaelani pada Mulan Jameela, Bela Maia Estianty?

Media Sosial dan Whatsapp Sudah Normal, Begini Cara Hilangkan Dampak Buruk VPN Pada Ponsel

Kumpulan Ucapan Selamat Idul Fitri 2019, dalam Bahasa Indonesia, Arab, Inggris dan Jawa

Mustofa Nahrawardaya Ditangkap Polisi Terkait Cuitan Kerusuhan 22 Mei, Apakah Isinya?

Dua Eks Ketua Mahkamah Konstitusi Kompak, Sebut Hasil Pilpres 2019 Bisa Diubah, Prabowo Bisa Menang ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!