Prinsip Pengusaha Muslim: Sedikit Tapi Halal! | Kalimantan Timur Uri.co.id

Kalimantan Timur Uri.co.id

Menu

Prinsip Pengusaha Muslim: Sedikit Tapi Halal!

Foto Prinsip Pengusaha Muslim: Sedikit Tapi Halal!

kaltim.Uri.co.id, BALIKPAPAN – Tanda-tanda kesempurnaan seorang muslim dapat diukur dari akhlaknya yang baik. Bahkan akhlak yang baik dapat menempatkan seseorang pada tingkat tertinggi di hadapan manusia. Dalam berbisnis, hendaknya pengusaha muslim mentaati aturan dan menjauhi larangan demi kemaslahatan pelaku bisnis itu sendiri.

Seorang pengusaha muslim hendaknya istiqomah menjalankan aturan agamanya dan tidak melanggar syari’at. Hanya saja kebanyakan manusia adalah orang-orang yang zhalim dan tidak berilmu. Dalam kajian muamalah dan wirausaha bisnis di Masjid An-Nasai, Selasa (7/6) kemarin, dibahas mengenai larangan-larangan bisnis.

“Pertama adalah menggunakan bantuan mistis seperti memakai jimat, pergi ke dukun, memakai penglaris, dan sebagainya yang berbau kesyirikan,” ujar ustad Muflih Safitra Msc, pembimbing kajian.

Ini syirik yang bisa membuat pelakunya keluar dari Islam jika dia meyakini jimat dan dukun itulah tempat menggantung rezekinya. Minimal, shalat tidak diterima 40 Hari 40 malam. (HR Abu Daud)

Kedua adalah adanya Hasad pada pesaing. Hasad adalah sifat tak suka atas keadaan orang lain yang lebih baik dan ingin kebaikan itu hilang dari orang tersebut. Seharusnya kata Muflih, seorang pengusaha muslim ikut gembira dengan keberhasilan orang serta berusaha dan tawakkal kepada Allah dalam mengembangkan bisnisnya. Ketiga adalah berlaku curang seperti menyembunyikan cacat pada barang dagangan. Pelakunya wajib segera taubat dan mengganti barang yang jelek dengan yang bagus atau membatalkan transaksi.

Keempat adalah sumpah palsu yang termasuk dusta dan menghilangkan berkahnya bisnis. Kelima adalah menimbun barang. Misalnya saja menimbun tepung dan nanti baru akan dijual saat stok di pasaran menipis demi mendapatkan keuntungan lebih besar. “Hal ini harus dihindari. Pengusaha muslim hendaknya bijak dan jangan sampai menyusahkan orang lain,” kata Muflih.

Berikutnya adalah berharap spekulasi dan perjudian, seperti melaksanakan transaksi jual beli barang dengan model untung-untungan. Kemudian berbisnis sesuatu yang tidak dimiliki dan tidak ada wujudnya, seperti jual beli organ tubuh. Akan tetapi untuk organ tubuh jika didonorkan maka diperbolehkan oleh ulama.

Terakhir adalah menghindari riba. Contoh bisnis yang mengandung riba adalah memakai jasa rentenir, modal usaha dari bank, asuransi dan gadai komersil. Pengusaha muslim seharusnya memiliki prinsip sedikit tapi halal, bukan banyak keuntungan tapi haram. “Kain kafan tidak pernah diberi kantung. Karena saat kita mati nanti, harta di dunia akan kita tinggalkan,” katanya.

Rabu (8/6) selepas shalat Subuh kajian ini akan kembali digelar dengan membahas bisnis menjanjikan jelang Lebaran. (*) (uri/ol/attikawa/PP)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Kalimantan Timur Uri.co.id